
BUMI, planet tempat kita berpijak sedang sekarat, rusak di berbagai bagian. Sebagian besar kerusakan itu diakibatkan ulah manusia.Berbagai elemen masyarakat di seluruh dunia khususnya pencinta lingkungan, serempak memperingati Hari Bumi Sedunia pada Kamis (22/4). Sebagai tanda kasih sayang kepada bumi, pencinta lingkungan itu membagikan bibit pohon kepada masyarakat untuk ditanam di lingkungan tempat tinggal mereka. Sebuah usaha positif yang harus kita tindak lanjuti dengan sikap lebih mencintai bumi seisinya.
Di Banjarbaru, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan (Hima Teklink) Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) membagikan stiker kepada pengguna jalan. Stiker tersebut berisi pesan moral, meminta masyarakat menjaga bumi.
Sebagaimana dikatakan koordinator aksi, Aditya Noor, aksi damai berupa pembagian stiker itu sebagai bentuk ajakan dan penyadaran kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan dan memperhatikan kondisi bumi.
Diakui atau tidak, kepedulian kita terhadap lingkungan sangat lemah. Buktinya masih ada warga yang membuang sampah seenaknya. Orang yang berada dalam mobil sedang melaju di jalan pun tak segan melemparkan sampah walaupun hanya berupa tisu. Walaupun itu dianggap hanya sebagai tindakan kecil, namun tanpa kita sadari perilaku demikian adalah andil dalam memperparah kerusakan bumi.
Kita sangat menyadari, bumi kita sedang sakit; menunggu ajalnya tiba. Di Kalsel, misalnya. Hampir semua daerah menjadi langganan banjir. Padahal sebelumnya, banjir hanya menggenangi daerah tertentu khususnya kawasan rendah yang berada di daerah aliran sungai. Tapi kini, banjir tak pandang bulu menerjang semua wilayah.
Itu lantaran, ekosistem daerah ini sudah rusak. Sementara upaya memperbaikinya sangat minim, atau bisa dibilang tidak ada. Jadi, jangan salahkan alam yang tidak mau lagi bersahabat dengan manusia.
Di balik itu semua, gaya hidup kita selama ini --mungkin-- memperparah kerusakan bumi, membakar sampjh semaunya. Padahal kalau kita mau bersikap arif, sampah bisa kita jadikan ‘obat’ bagi bumi yang sakit ini. Sampah tidak dibakar, tetapi dipilah yang organik diambil dan dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah. Dengan demikian, tanaman yang kita tanam pun ikut menikmati. Kita sebagai manusia yang merasakan manfaatnya.
Apakah itu sudah kita lakukan? Kalaupun ada, mungkin hanya segelintir orang. Seandainya semua penghuni bumi bisa bersikap arif terhadap planet ini, mereka sendiri yang merasakannya.
Untuk itu, sebaiknya kita manfaatkan momentum Hari Bumi ini dengan sebaik-baiknya dan mengubah perlakuan kita terhadap bumi. Kita wajib mencintai bumi, sebagaimana bumi mencintai kita dengan memberikan semua kandungannya demi kemashlahatan manusia.
Sebelum terlambat, kita harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi demi kelangsungan hidup anak cucu kita. Mulai sekarang, penghuni bumi wajib mengubah perilaku terhadap lingkungan: bumi dan seluruh isinya.
Kita tidak harus melakukan tindakan radikal, tetapi bisa dimulai dengan perbuatan kecil, misalnya tidak menggunakan plastik dalam menunjang kehidupan kita di atas bumi ini. Kantong plastik, dapat kita ganti dengan bakul purun. Tanaman purun banyak di daerah ini, dan bisa dijadikan aneka kerajinan yang bisa menciptakan rupiah.
Bakul purun dapat dipergunakan berkali-kali dan tidak merusak lingkungan. Setelah tidak dipakai akan menjadi sampah organik. Sementara plastik justru merusak lingkungan, karena begitu tidak terpakai lagi akan menjadi sampah anorganik --berbahaya bagi manusia -- karena tidak hancur meski 100 tahun tertanam di tanah



0 komentar:
Posting Komentar