Selasa, 27 April 2010

Hari Bumi


BUMI, planet tempat kita berpijak sedang sekarat, rusak di berbagai bagian. Sebagian besar kerusakan itu diakibatkan ulah manusia.

Berbagai elemen masyarakat di seluruh dunia khususnya pencinta lingkungan, serempak memperingati Hari Bumi Sedunia pada Kamis (22/4). Sebagai tanda kasih sayang kepada bumi, pencinta lingkungan itu membagikan bibit pohon kepada masyarakat untuk ditanam di lingkungan tempat tinggal mereka. Sebuah usaha positif yang harus kita tindak lanjuti dengan sikap lebih mencintai bumi seisinya.

Di Banjarbaru, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan (Hima Teklink) Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) membagikan stiker kepada pengguna jalan. Stiker tersebut berisi pesan moral, meminta masyarakat menjaga bumi.

Sebagaimana dikatakan koordinator aksi, Aditya Noor, aksi damai berupa pembagian stiker itu sebagai bentuk ajakan dan penyadaran kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan dan memperhatikan kondisi bumi.

Diakui atau tidak, kepedulian kita terhadap lingkungan sangat lemah. Buktinya masih ada warga yang membuang sampah seenaknya. Orang yang berada dalam mobil sedang melaju di jalan pun tak segan melemparkan sampah walaupun hanya berupa tisu. Walaupun itu dianggap hanya sebagai tindakan kecil, namun tanpa kita sadari perilaku demikian adalah andil dalam memperparah kerusakan bumi.

Kita sangat menyadari, bumi kita sedang sakit; menunggu ajalnya tiba. Di Kalsel, misalnya. Hampir semua daerah menjadi langganan banjir. Padahal sebelumnya, banjir hanya menggenangi daerah tertentu khususnya kawasan rendah yang berada di daerah aliran sungai. Tapi kini, banjir tak pandang bulu menerjang semua wilayah.

Itu lantaran, ekosistem daerah ini sudah rusak. Sementara upaya memperbaikinya sangat minim, atau bisa dibilang tidak ada. Jadi, jangan salahkan alam yang tidak mau lagi bersahabat dengan manusia.

Di balik itu semua, gaya hidup kita selama ini --mungkin-- memperparah kerusakan bumi, membakar sampjh semaunya. Padahal kalau kita mau bersikap arif, sampah bisa kita jadikan ‘obat’ bagi bumi yang sakit ini. Sampah tidak dibakar, tetapi dipilah yang organik diambil dan dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah. Dengan demikian, tanaman yang kita tanam pun ikut menikmati. Kita sebagai manusia yang merasakan manfaatnya.

Apakah itu sudah kita lakukan? Kalaupun ada, mungkin hanya segelintir orang. Seandainya semua penghuni bumi bisa bersikap arif terhadap planet ini, mereka sendiri yang merasakannya.

Untuk itu, sebaiknya kita manfaatkan momentum Hari Bumi ini dengan sebaik-baiknya dan mengubah perlakuan kita terhadap bumi. Kita wajib mencintai bumi, sebagaimana bumi mencintai kita dengan memberikan semua kandungannya demi kemashlahatan manusia.

Sebelum terlambat, kita harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi demi kelangsungan hidup anak cucu kita. Mulai sekarang, penghuni bumi wajib mengubah perilaku terhadap lingkungan: bumi dan seluruh isinya.

Kita tidak harus melakukan tindakan radikal, tetapi bisa dimulai dengan perbuatan kecil, misalnya tidak menggunakan plastik dalam menunjang kehidupan kita di atas bumi ini. Kantong plastik, dapat kita ganti dengan bakul purun. Tanaman purun banyak di daerah ini, dan bisa dijadikan aneka kerajinan yang bisa menciptakan rupiah.

Bakul purun dapat dipergunakan berkali-kali dan tidak merusak lingkungan. Setelah tidak dipakai akan menjadi sampah organik. Sementara plastik justru merusak lingkungan, karena begitu tidak terpakai lagi akan menjadi sampah anorganik --berbahaya bagi manusia -- karena tidak hancur meski 100 tahun tertanam di tanah

0 komentar:

Posting Komentar

penyebab Global warming

Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.